BOSAN NGULI, NYALUNG SAJA. Calung Jebrag Padalarang

15 05 2010

Empat pria merasa tidak nyaman di tempat kerjanya. Banyak sebab yang jadi pemicunya. Mereka juga sudah mulai bosan dengan rutinitas sebagai buruh pabrik. Berangkat pagi, pulang malam. Belum lagi upah yang kecil, terancam pula di PHK dari tempat kerjanya. Karenanya, mereka lebih baik menjelma menjadi pemain Calung. Dan karena Calung pula, mereka merasa lebih bebas menentukan pendapatan, tempat bekerja, bahkan bebas ber-ekspresi, dan tersalurkan dalam mengawal dan menjaga seni budaya-nya.

Namanya CALUNG JEBRAG, yang menggawanginya adalah Aep Jebrag (50th), Wowon Dekog (55th), Atang Leunyai (34th), Eman Sule (38th). Ke empat-nya warga Padalarang, dulu memang tidak satu tempat kerja, tetapi mereka semuanya adalah calon korban korban PHK di perusahaan yang sama, industry/pabrik tekstil. Aep dan Wowon yang memang sebelumnya telah menggemari serta piawai memainkan calung, bersepekat untuk membentuk grup, dan jadilah Calung Jebrag.

Mereka telah merambah hotel berbintang, berbagai acara besar hingga arisan keluarga dan bahkan kumpulan ibu ibu pengajian. Tak tanggung tanggung, bukan hanya Bandung, tapi hampir sebagian besar tempat di Jawa Barat telah mereka jelajahi. Layaknya pada Kamis pagi, 13 Mei 2010 saat mereka ngamen di pasar Sederhana Kota Bandung. Hari itu mereka tidak ada order manggung, maka seperti biasa, jalanan dan pasar adalah “ladang penghasilan” yang subur.

“Kita pernah main di hotel berbintang. Pernah pula main keliling untuk para Caleg yang sedang kampanye dari satu tempat ke tempat lainnya mas. Tapi kalau sedang sepi order, kita ngamen seperti ini. Alhamdulillah, kalau sedang ramai, dalam sekali ngamen bisa dapat 70 hingga 100 ribu rupiah, bersih”, demikian disampaikan Aep Jebrag sang pimpinan calung.

“Ngamen calung itu menyenangkan mas. Menghibur diri, menghibur orang lain, ya itung itung ikut melestarikan budaya sunda lah”, demikian seloroh Wowon Dekog. Wowon bahkan menyebut, dengan ngamen ia merasa kebebasannya untuk berkesenian dapat teruji dan terasah. “Kami ini sekadar menuruti jiwa berkesian kami, sekaligus menggantungkan nafkah pada calung. Kami menikmati”, ujarnya mengakhiri perbincangn, usai memainkan dan menyanyikan lima lagu lebih. (Parto DJ)


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.