Panggil Aku OYO! Usiaku sudah 71 tahun, dan sudah mulai membungkuk. Meski aku sudah tidak bisa berjalan tegak, aku masih mampu jalan belasan hingga puluhan kilometer, mengelilingi Kota Tasikmalaya ini. Tak terbayangkan puluhan tahun lalu, jika hingga masa tuaku harus menjajagakan minuman be…rnama ‘Cingcauw’ yang berwarna hijau ini. Tapi tak pernah sedikitpun aku menyesalinya, toh ini sudah menjadi jalan hidup. Aku mensyukuri-nya.
Seharian ini tadi sejak pagi, hujan terus menyergap
langkahku. Maka tak heran bila hampir jam dua siang ini, dagangan-ku masih setinggi wadahnya. Rasanya belum terlampau sering aku ‘mengeruk’ si hijau dan menuangkannya dalam setiap gelas. Jika hingga sore nanti tak habis pula, sudah saatnya untuk digelontorkan ke selokan alias harus benar benar dibuang. Tuhan, berilah hambamu “laris manis” hari ini, demikian pintaku dalam setiap detik dan langkahku.
Masa kecil dan muda, aku habiskan di Cikatomas. Jauh dari kota Tasikmalaya ini. Aku hanya sekolah hingga kelas tiga, setara sekolah dasar. Setelahnya, sejak tahun 60an awal aku memilih jualan Cingcauw. Kedua anakku sudah berumah tangga, bahkan empat orang cucuku juga sudah besar besar, dua diantaranya bahkan telah menikah pula. Pernah suatu ketika, anak-ku, cucuku, meminta aku untuk tidak bekerja lagi. Mereka merasa kasihan melihat aku yang sudah mulai membungkuk ini untuk tetap jalan belasan kilometer tiap hari. Satu pinta mereka, aku dilarang jualan cingcauw.
Aku menjawab Tanya mereka, “ Biarlah bapak bekerja dan berhenti ketika bapak sudah tak sanggup lagi melakukan apapun. Biarlah bapak terus jualan cingcauw hingga bapak tak mampu lagi jalan. Ingatlah, kalian kini bisa menikmati hidup lebih baik semuanya karena cingcauw yang bapak dorong kemana kemana ini. Bapak tak ingin tua dengan hanya menyesali kerentaan saja”. (Foto dan Teks Partho DJ)

